Harga Fantastis Tanah di Inti Kota Medan – Kenaikan harga tanah di pusat-pusat kota di Medan tak lepas dari booming properti pada dekade terakhir. Mulai dari pusat perbelanjaan, sarana pendidikan, perkantoran maupun rumah sakit. Lonjakan harga tanah ini pun tak lepas dari adanya booming demografi di pusat-pusat kota, yang dianggap sebagai tempat perputaran transaksi keuangan, pusat bisnis dan kegiatan ekonomi.

Apalagi Kota Medan sebagai ibukota propinsi Sumatera Utara sekaligus kota terbesar ketiga di Indonesia, adalah magnet besar bagi migrasi penduduk dari desa ke kota dari daerah sekitarnya. Semakin sempitnya lahan di pusat-pusat kota menyebabkan harga tanah di Medan melambung sangat tinggi. Bahkan di inti kota seperti Jalan Balai Kota, Jalan Kesawan, Jl. Perintis Kemerdekaan dan Jl. Thambrin harga tanahnya bisa mencapai harga titik tertinggi yaitu Rp 200 juta per meter nya. Yang lebih fantastis, daerah segitiga emas Wisma BII, Jalan Diponegoro misalnya, kabarnya harga tanah lebih dari Rp 200 juta per meter.Harga Fantastis Tanah di Inti Kota MedanUntuk kenaikan harga tanah di kota medan ini tak ditentukan oleh faktor tunggal. Baik itu dimana saja lokasinya, harga tanah cenderung naik harganya tiap tahun. Fakta umum tentang harga tanah ini memang belaku universal. Selama ini tercatat faktor kenaikan harga tanah paling umum disebabkan letak lokasinya. Karena itu bisa dipahami semakin strategis lokasi tanah, semakin tinggi pula harganya.

Selain letak lokasi yang strategis dan berada di inti kota, pertimbangan lain seperti view lingkungan sekitar, kenyamanan kawasan, tingkat kepadatan dan lainnya, cenderung juga mempengaruhi harga tanah tersebut. Biasanya, bila kawasan seputar tanah tersebut sarat pengembangan, banyak perumahan atau proyek properti lainnya dibangun dengan sendirinya harga tanah di sekelilingnya pun mengalami kenaikan signifikan.

Selain kedua poin diatas, ada juga poin yang tak kalah pentingnay yaitu akses jalan untuk masuk  atau menuju lokasi tanah juga merupakan faktor yang mempengaruhi dari nilai sebuah tanah. Jalan lebar dan tidak menikung tajam yang melintasi sebidang tanah berdampak langsung pada tingginya harga. Jalan lebar lazimnya nya menjadi daya tarik tersendiri untuk mengembangkan pusat keramaian, perkantoran, perniagaan dan lainnya. Di samping itu, jalan lebar yang menjadi akses ke sebidang tanah berdampak positif bagi kelancaran serta kenyamanan mobilitas penduduk yang tinggal di kawasan itu.

Jadi, bila anda ingin membeli sebuah tanah di Kota Medan, anda dapat mempertimbangkan beberapa point yang penting untuk membeli sebuah tanah di Kota Medan. Jadi, anda jangan terkejut bila ingin membeli sebuah tanah di kota medan dengan harga yang super tinggi dan fastastis. Karena kebanyakan harga tanah di kota medan sudah menjadi Harga fantastis tanah di Inti Kota Medan yang sudah melambung tinggi seperti bintang di langit.

Baca Juga : 

Analisis Kenaikan Harga Tanah di Pinggiran Jakarta

Kenaikan harga tanah di pinggiran Jakarta saat ini tampaknya menjadi ikon baru dalam dunia investasi di Indonesia, ada beberapa faktor yang mendorong kenaikan harga tanah :

  • Dibangunnya infrastruktur Jalan Tol
  • Dibangunnya Stasiun Kereta Api baru dan Hypermarket baru
  • Adanya sarana Pendidikan
  • Dibangunnya Rumah Sakit Besar di satu wilayah

Pada hasil riset awal tahun Indonesian Property Watch (IPW) yang dikutip dari Detik Finance :

mencatat kenaikan harga tanah di kawasan Depok yang dilalui tol pada tahun lalu hingga 15%-24%. Kawasan ini memang akan diapit dua proyek tol yaitu Tol Jagorawi-Cinere dan Depok-Antasari. Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan sebelumnya harga pasar tanah di Depok rata-rata bisa mencapai Rp 800.000 sampai Rp 1,5 juta per meter persegi. Namun adanya proyek tersebut membuat harga tanah di kawasan yang dilewati dua proyek tol tersebut terus merayap naik. “Kenaikan tanah di Depok 15-24% itu tahun lalu, saya melihat akan ada kenaikan juga di 2012, kenaikannya di Depok akan signifikan. Di Depok harga tanah bervariatif, ada yang Rp 800.000, Rp 1,5 juta, kalau yang menengah atas sampai Rp 2 juta itu harga pasaran,” katanya.

Fakta-fakta temuan IPW ini mengalahkan adagium bahwa tanah memiliki pertumbuhan harga yang lamban, justru sekarang pertumbuhan nilai tanah melebihi obligasi yang dikeluarkan swasta yang rata-rata nilai kembaliannya hanya berkisar 11%-15%/tahun, sementara harga tanah sampai pada booming properti tahun 2014 berkisar antara 15%-50%.

Kenapa harga tanah melonjak sedemikian hebat? – lonjakan harga ini sebenarnya lebih ditentukan pada booming demografi di Indonesia, terutama pada pusat-pusat kota. Jakarta sejak 1970-an adalah magnet besar bagi migrasi penduduk dari desa ke kota. Sempitnya ruang lahan membuat lahan di Jakarta melambung tinggi, bahkan di pusat kota Jakarta seperti Jalan Sudirman (Sudirman Boulevard) dan kuningan, harga tanah menembus sampai pada 60 juta/meter padahal di Jaman demam ‘Segitiga Emas’ tahun 1988-1990 harga tanah disana sudah dimainkan para spekulator antara harga Rp 500.000 – Rp. 5 juta.

Melihat pertumbuhan harga tanah yang luar biasa di Jakarta tak pelak, investasi tanah merupakan primadona dalam 10 tahun ke depan, hanya saja kemudian harga tanah menjadi tinggi pertumbuhannya justru pada daerah-daerah penopang Jakarta.

Pertumbuhan Harga Tanah di Depok

Depok sendiri memiliki pertumbuhan nilai tinggi dari sisi margin, berbeda dengan lingkungan elite kelas atas seperti Bintaro, Serpong dan BSD (Bumi Serpong Damai) yang menjadi banyak pilihan bagi kaum profesional muda yang aktif, Depok awalnya dipilih oleh pensiunan sebagai tempat tinggal. Pertumbuhan harga tanah di Depok sendiri antara tahun 1990-2000 kalah cepat dengan pertumbuhan harga tanah di Cinere (dekat Pondok Labu), saat itu Cinere berkembang menjadi pemukiman elite baru, walaupun Cinere dikenal sebagai pemukiman yang tidak memiliki akses jalan tol dan akses yang mempercepat transportasi lainnya seperti stasiun kereta api namun entah kenapa antara tahun 1990-2000 Cinere menjadi bintang dalam pilihan properti masyarakat.

Depok sendiri mulai booming pada awal tahun 2000-an, harga lahan yang tadinya berkisar hanya 10.000/meter -50.000/ meter melonjak. Kemudian harga tanah melonjak sampai pada 1,5 juta permeter sampai dengan 3 juta per meter hanya dalam tempo 10 tahun.

Mengapa Harga Tanah di Depok Mengalami Lonjakan Hebat?

Di awal tahun 2000-an, tepatnya di tahun 2002 sudah mulai ada pengembangan rumah dengan model townhouse, pengembangan ini mulanya mengikuti tren di Jakarta Selatan. Pengembangan rumah berbasis bandar ini sebelumnya juga sudah sukses di lingkungan kelas atas seperti ‘Pesona Kahyangan’ yang merupakan pengembangan townhouse tersukses di Depok pada era tahun 1990-an. Perumahan Pesona Kahyangan adalah perumahan terpadu, dengan kolam renang dan sarana gymnasium. Kemudian muncul perumahan townhouse tanpa fasilitas terpadu seperti itu, hanya pada keamanan yang disatukan pada pintu gerbang. Faktor keamanan menjadi pilihan penting dengan meningkatnya kriminalitas yang sering menyasar rumah-rumah kompleks besar namun dengan sistem pengamanan minim.

Lalu para pemain property yang dulu-nya bekerja di perusahaan property besar, memperluas jaringan permodalan dengan membangun permodalan di tanah seputaran depok mulai dari perbatasan Jakarta Selatan seperti Tanah Baru, Kukusan, Beji sampai dengan di ujung selatan Depok seperti Cipayung dan Sawangan.

Banyak pemain-pemain baru yang muncul, mereka awalnya hanya bermodalkan membangun satu atau dua rumah kemudian berkembang menjadi pemain besar yang bisa membangun sampai ratusan bahkan ribuan unit. Kemampuan mereka bermain lahan di Depok didukung bank-bank besar yang kemudian membangun cabangnya di sepanjang jalan Margonda Raya.

Jalan Tol Pemicu Harga Depok

Dibangunnya sarana infrastruktur seperti Jalan Tol membuat harga tanah di Depok melambung tinggi. Walaupun pembangunannya agak tersendat karena persoalan pembebasan lahan, namun perkembangan realisasi jalan tol terus berjalan ke arah yang positif. Di sisi jalan sepanjang rencana jalan tol ada patok-patok putih yang merupakan batas pembelian jalan tol oleh pihak eksekutor proyek jalan tol, disamping patok-patok putih inilah kemudian harga tanah melambung tinggi apalagi yang didekat keluar masuk pintu tol.

Lokasi ke Akses Jalan Tol mengalami ledakan hebat dalam soal harga, membuat harga tanah di Depok terus merambat naik. Jalan Tol ini akan melingkari ruas pinggiran Jakarta, sehingga seluruh kota Jakarta bisa dijangkau dengan cepat lewat jalur lingkar jalan tol ini.

Rencana Pembangunan Rumah Sakit Internasional di Universitas Indonesia

Ada lagi yang membuat harga tanah di Depok melonjak yaitu : rencana pembangunan rumah sakit Internasional di Universitas Indonesia, yang juga akan dijadikan Rumah Sakit Pendidikan terbesar di tanah air. Apabila program UI ini sukses bukan tak mungkin ini adalah RS Pendidikan terbesar di seluruh Asia Tenggara, mengingat reputasi RSCM yang selama ini menjadi bahan rujukan bagi para mahasiswa ilmu kesehatan di seluruh Asia Tenggara.

Kebutuhan para pekerja rumah sakit, peningkatan akselerasi lahan, dibangunnya sekolah-sekolah menengah Internasional yang kemudian menjadikan UI sebagai centrum dari pusat pendidikan maka bukan tak mungkin Depok menjadi kota tersendiri yang perkembangannya lebih pesat ketimbang Jakarta Selatan. -Apalagi akses terdekat dari Depok yaitu Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan yang awalnya hanya diminati oleh perusahaan-perusahaan minyak asing, kini mulai jadi incaran para spekulan tanah dan mulai dibangun gedung-gedung tinggi yang kemungkinan akan menjadi pusat keuangan selain di Jalan Sudirman.

Melihat peluang ini maka tak salah pilihan investasi jatuh ke tanah Depok, selain itu yang perlu diperhatikan adalah sumber air di Depok masih sangat bagus.

Baca Juga :

Kisaran Harga Tanah di Jakarta

Jakarta sudah kerap kali menjadi surga dalam investasi properti terutama karena Jakarta memiliki kenaikkan harga tanah yang sangat menjanjikan. Selain karena merupakan ibukota negara Indonesia, Jakarta juga merupakan tulang punggung perekonomian nasional, sehingga banyak orang berbondong-bondong untuk ke Jakarta.

Jika ingin membeli sebuah properti atau tanah, hal pertama yang perlu kita ketahui tentu saja, “Berapa sih harga pasaran per meternya?” Sebab, jika tidak benar-benar tahu, bisa saja kita menjadi sasaran tipu broker bermulut manis.

Ya, tanah di lokasi tertentu memang menjadi faktor utama dalam menentukan harga properti sebelum dikalikan dengan bentuk dan luas bangunan. Harga tanah yang dekat dengan stasiun, pintu tol, atau tempat hiburan tentu sangat berbeda dengan yang letaknya agak ke dalam.

Menentukan harga jual/beli tanah memang bukan perkara mudah, untuk itu biasanya seorang appraiser pun disewa untuk membuat taksiran harga. Hanya saja, harga yang disebutkan hanya berdasar taksiran, bukan harga real di lingkungan tersebut.

Berdasarkan riset yang kami analisa, berikut adalah harga tanah di Jakarta per meternya dari masing-masing regional berdasarkan transaksi yang pernah terjadi sepanjang akhir 2014 hingga sekarang.

1. Jakarta Pusat

Pelemahan sektor properti dan kurs rupiah terhadap dolar AS tampaknya berimbas pada penjualan tanah di pusat kota Jakarta. Bukan tanpa alasan, harga tanah di Jakarta pusat memang tergolong yang paling mahal. Akibatnya tak banyak transaksi yang terjadi di kawasan ini, kecuali di beberapa spot di sekitar Menteng.

Menteng, Rp 55 juta per meter

2. Jakarta Utara

Selain Jakarta Pusat dan Cipete, Jakarta Utara menjadi salah satu primadona area properti. Banyaknya kawasan elite membuat harga tanah di area ini terbilang tinggi. Contohnya adalah Kelapa Gading, yang harganya masih terbilang tinggi kendati langganan banjir.

Marunda, Cilincing, Rp 13 juta per meter
Gading Imperial, Kelapa Gading, Rp 8,5 juta per meter

3. Jakarta Selatan

Untuk Jakarta Selatan, Cipete masih jadi primadona dengan transaksi penjualan tertinggi jika dibandingkan dengan kawasan Jakarta Selatan lain.

Cipete, Rp 21,6 juta per meter
Jagakarsa, Rp 5 juta per meter
Pejaten Barat, 6,3 juta per meter
Kebayoran Baru, Rp 13 juta per meter
Bintaro (memasuki Tangerang Selatan), Rp 4,5 juta per meter

4. Jakarta Barat

Harga tanah di Jakarta Barat tergolong bervariasi, yakni dari kisaran Rp 6 juta hingga Rp 8 juta, kecuali untuk tanah di beberapa perumahan elite yang harganya masih terbilang tinggi. Berikut adalah rinciannya:

Kamal, Rp 6,5 juta per meter
Srengseng, Rp 6 juta per meter
Meruya Utara, Rp 6,5 juta per meter
Semanan, Kalideres (perum. Kalideres Permai), Rp 8 juta per meter

5. Jakarta Timur

Sama halnya dengan Jakarta Pusat, sepanjang 2015 tak banyak transaksi jual beli tanah yang terjadi di kawasan ini. Namun berbeda dengan Jakarta Pusat yang harganya masih terbilang mahal, Jakarta Timur masih jauh dari tempat hiburan dan fasilitas seperti area Jakarta lainnya.

Cibubur, Rp 4 juta per meter
Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Rp 2,5 juta per meter

Baca Juga :

Daerah dengan Harga Tanah Termurah dan Termahal di Jakarta

Semua orang tentu tau bahwa harga tanah terus saja meningkat tiap tahunnya di hampir seluruh daerah dan kawasan yang ada di Indonesia, terutama di kota Jakarta yang merupakan ibu kota negara Indonesia.

Para pemburuh dan pengejar tanah tentu saja akan semakin kesulitan untuk tanah dengan harga yang terjangkau. Tapi tidak perlu khawatir, karena dari hasil survei yang ada, disebut beberapa daerah yang mempunyai harga termurah dan juga termahal yang bisa di cari, khususnya di Jakarta.

Dari keterangan penuh yang telah kami terima dan kami rangkum akan terlihat analisis rata-rata harga di Jakarta. Fakta ini kami rangkum dari sumber yang akurat dan terpercaya.

Analisis ini akan mampu memberikan gambaran jelas tentang pasaran harga tanah di Jakarta. Data ini bisa menunjukkan kepada calon pembeli tanah dengan harga yang terjangkau di Ibukota Jakarta.

Berikut lokasi tanah termurah dan termahal di Jakarta :

1. Jakarta Pusat

Di kota ini rata-rata harga tanah per meter perseginya mencapai Rp 24,90 juta atau memegang harga tanah termahal di Ibukota. Namun menariknya, Anda masih bisa menemukan tanah dengan harga terendah Rp 9 juta di daerah Gunung Sahari sampai yang super mahal di kawasan Menteng seharga Rp 90 juta per meter persegi, daerah hunian elit berjejer.

2. Jakarta Utara

Urutan ketiga kota yang mencatatkan harga tanah termurah ada di Jakarta Utara. Rata-ratanya Rp 20,73 juta per meter persegi. Bahkan daerah Rorotan di kota Utara Jakarta menduduki peringkat pertama dengan harga tanah super murah dibanding daerah lainnya di Jakarta sebesar Rp 5,45 juta per meter persegi. Sementara kawasan Penjagalan menjadi yang paling mahal di kota Jakarta Utara sebesar Rp 37,04 juta setiap meter perseginya.

3. Jakarta Selatan

Kota ini menawarkan harga tanah rata-rata senilai Rp 23,84 juta per meter persegi. Di daerah Lenteng Agung, Anda bisa memperoleh tanah dengan rentang harga rata-rata Rp 10,34 juta per meter persegi dan Rp 57,14 juta di Panglima Polim.

4. Jakarta Barat

Harga tanah di kota Jakarta Barat masuk deretan yang kedua termurah dengan rata-rata Rp 16,62 juta per meter persegi. Jika ingin mencari harga tanah paling murah di area ini, bisa memilih daerah Srengseng karena setiap meter perseginya dibanderol Rp 8,85 juta dan termahal senilai Rp 30,56 per meter persegi di daerah Mangga Besar.

5. Jakarta Timur

Di kota ini, harga rata-rata tanah sebesar Rp 11,75 juta per meter persegi dan menjadikan Jakarta Timur sebagai kota dengan harga paling terjangkau di DKI Jakarta. Di Jakarta Timur, calon pembeli bisa memperoleh tanah murah di daerah Penggilingan dengan harga rata-rata Rp 6,75 juta per meter persegi. Sedangkan daerah yang paling mahal terdapat di Kampung Makassar senilai Rp 26 juta per meter persegi.

Baca Juga :

7 Wilayah dengan Harga Tanah Termahal di Jakarta

Jakarta kini memiliki tanah yang semakin terbatas, alhasil harga tanah tersebut pun jadi semakin meningkat. Terdapat beberapa kawasan di Jakarta yang mempunyai harga yang mahal permeternya, seperti Kelapa Gading.

Selain harga tanah yang mahal di Kelapa Gading pun masih terdapat beberapa kawasan lain yang merajai harga tanah di Jakarta, misalnya Kawasan Segitiga Emas seperti Sudirman, Thamrin, dan Kuningan, yang disebut-sebut sebagai wilayah dengan harga tanah termahal.

Berikut Wilayah dengan Harga Tanah Termahal di Jakarta :

1. Kelapa Gading

Harga tanah di kelapa Gading saat ini berada dikisaran Rp 34-40 juta per m2. Harga tanah di wilayah tersebut memang luar biasa. Menurut survei, melejitnya harga tanah di kawasan tersebut dikarenakan Kelapa gading dianggap sebagai kawasan yang merupakan hunian terbaik untuk kelas menengah atas.

2. Kawasan CBD

Kawasan Central Business Distric (CBD) di Jakarta yang menjadi pusat dari perkantoran dan hunian vertikal adalah Sudirman. Di SCBD dibanding dua tahun lalu, harga tanah naik dua kalilipat dan yang paling tinggi mencapai USD7.000 per m2 (setara Rp 66,5 juta, kurs Rp 9.500 per USD). Selain perkantoran, di area SCBD terdapat pula pusat komersial seperti toko, restoram serta pusat kebugaran.

3. Pondok Indah

Pondok merupakan kawasan elit di Jakarta Selatan. Disebut-sebut jika harga tanah di kawasan tersebut selama satu tahun terakhir mengalami peningkatan menjadi Rp 30-35 juta per m2. Jika ingin membeli unit rumah di daerah ini harus merogoh uang lebih dalam. Berdasarkan data listing rumah siap jual Century21, rumah di Pondok Indah dengan luas lahan 600 m2 ditawarkan mulai harga Rp 35-38 miliar.

4. Kemang

Kemang, Jakarta Selatan juga menjadi salah satu kawasan favorit terutama untuk para ekspatriat. Selain itu, kawasan tersebut juga membuat target pasar pengembangan properti di Kemang kian bertambah. Alasan Kemang menjadi favorit, yang pertama tentu saja Kemang masih hijau wilayahnya, banyak pepohonan, kedua banyak cafe-resto, galeri, butik, dan ketiga area di sini banyak warga asing, jadi sekolah asing juga banyak yang dibangun. Tak heran, harga tanah di Kemang sangat bervariasi, mulai dari yang termurah dikisaran Rp 8 juta per m2, hingga yang termahal sekira Rp 15 juta per m2.

5. Bekasi

Harga Tanah di Bekasi tercatat yang paling mahal untuk wilayah luar Jakarta. Harga tanah di Bekasi mencapai di Bekasi Rp 6 juta per meter. Diperkirakan harganya akan terus naik, yaitu pada 2011-2013 harga tanah tersebut mengalami kenaikan 50 persen per tahun.

6. Serpong

Kawasan Serpong saat ini telah banyak dibangun perumahan-peruamahan. Tak heran, harga tanah di wilayah tersebit merangkak naik. Saat ini, harga tanah di wilayah tersebut mencapai Rp 10 juta per meter. Serpong makin diminati lantaran untuk hunian masyarakat di pinggiran kota, karena faktor infrastruktur yang memadai, akses yang cukup mudah dijangkau, serta luasnya wilayah yang masih berperluang untuk dikembangkan.

7. Karawaci

Harga tanah di kawasan ini juga bervariasi. Kalau untuk lokasi premium, harganya mencapai Rp 20 juta per m2. Namun jika dilihat secara umum, harga tanah di wilayah tersebut masih di kisaran Rp 5-7 juta per m2. Hal tersebut, lanjutnya, dipengaruhi oleh pengembangan proyek baik properti residensial maupun komersial yang masih terus dilakukan hingga saat ini.

Baca Juga :