Memantau Harga Properti Membawa Banyak Keuntungan

Mengetahui Harga Tanah – Rumah dan tanah merupakan salah satu produk investasi yang tak lekang oleh zaman. Selain minim risiko, produk tren harga properti cenderung terus naik.

Untuk itu, permintaan terhadap produk properti seakan tidak pernah habis. Bahkan kepemilikan rumah untuk tempat bernaung menjadi impian semua orang. Namun, mimpi tersebut tidak mudah diwujudkan, apalagi harga properti saat ini terus naik mengikuti tingkat inflasi.

Kredit pemilikan rumah pun dinilai menjadi salah satu solusi efektif untuk menggapai cita-cita atas rumah, tetapi bunga yang ditetapkan serta uang muka yang cukup besar membuat nyali ciut untuk menjadi debitur.

Melihat hal yang kontradiktif tersebut membuat seorang Siti Sholekah Sariningsih tergerak untuk mengampanyekan dan mengedukasi masyarakat bahwa properti bisa dimiliki tanpa harus melalui KPR.

Perempuan yang akrab disapa Sari itu pun mulai berkecimpung di dunia properti dengan modal minim. Sari bercerita, setelah menikah pada 2012 dia sempat mengontrak selama dua tahun.

Saat itu, dia masih menikmati hidup tanpa terpikir untuk memiliki rumah sendiri. Tetapi, setelah lahir anak pertama pada 2013, baru terasa bahwa dia membutuhkan rumah sendiri yang bisa mendukung perkembangan anak.

“Awalnya terpikir untuk beli rumah secara kredit, tetapi saat itu hanya punya uang tunai sebesar Rp 20 juta. Jumlah tersebut tidak cukup untuk sekadar membayar uang muka, juga kurang untuk memulai sebuah usaha,” pikirnya.

Kemudian, dia pun belajar dari saudara suaminya yang sudah berbisnis properti sejak lama. Atas sarannya, uang sebesar Rp 20 juta tersebut dibelikan tanah seluas 120 meter persegi di daerah Serpong, Tangerang Selatan, yang rencananya akan digunakan untuk membangun empat rumah petak.

“Selama setahun tanah tersebut tidak diapa-apakan, tetapi kalau dilihat dari perkembangan harganya, setahun kemudian harga tanah sudah naik dua kali lipat,” katanya.

Setelah mengumpulkan modal tambahan untuk pembangunan hingga menjual emas kawin, akhirnya Sari bisa membangun satu rumah petak yang akan dikontrakan dengan biaya pembangunan sekitar Rp 30 juta. Ternyata rumah petak yang berdiri di atas lahan 30 meter persegi tersebut terjual sebulan setelah dibangun, dengan harga Rp 55 juta.

Uang sebesar Rp 55 juta tersebut kemudian digunakan lagi untuk membangun dua rumah petak lainnya. Tak berbeda dengan rumah petak pertamanya, dua rumah baru yang dia bangun juga laku dalam waktu yang singkat. Sari bisa mengantongi uang sebesar Rp 125 juta.

Uang tersebut pun dia gunakan lagi untuk membeli tanah seluas 65 m² di kawasan Bintaro. Untuk membangun rumah di tanah tersebut, Sari masih memiliki satu rumah petak yang rencananya akan dijual dan dijadikan modal membangun rumah di Bintaro.

Keuntungan Memahami Harga Tanah

Dari pergulatannya di bisnis jual-beli properti tersebut, akhirnya ibu satu anak ini bisa membeli rumah sendiri tanpa harus mengambil cicilan rumah di bank. Setelah dua tahun terjun di bisnis ini, dia pun mendapatkan banyak ilmu dan masukan terkait bisnis properti, termasuk strategi untuk mendapatkan modal. “Untuk mengawali bisnis properti ini sebenarnya tidak perlu punya lahan, karena bisa disiasati dengan kerja sama,” katanya.

Sebagai contoh Mengetahui Harga Tanah, untuk menjalankan proyek terbarunya saat ini, Sari hanya membutuhkan modal sebesar Rp 5 juta, sisanya dia dapatkan pendanaan dari saudaranya yang diajak kerja sama untuk membeli tanah seluas 800 m² di kawasan Legok, Tangerang.

Untuk meyakinkan investornya, Sari menawarkan proposal dan perjanjian kerja sama berupa saham 50% serta pembayaran pinjaman secara bertahaf. Hal serupa juga dilakukan untuk permodalan pembangunan cluster mini delapan rumah yang sedang dia garap.

Sari mengatakan, untuk proses pembangunan sebuah rumah hingga siap dipasarkan paling cepat membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Di mana 3 bulan pertama digunakan untuk mencari tanah yang strategis, 1 bulan untuk mengurus perizinan dan legalitas, serta 2-3 bulan pembangunan rumah untuk tipe 36. “Saat mulai pembangunan sudah bisa dipasarkan dengan menujukan gambar atau desain rumah,” katanya.

Bisa dibilang harga rumah yang ditawarkan Sari jauh di bawah harga rumah di pasaran termasuk rumah bersubsidi, hal tersebut disebabkan oleh pemilihan tanah yang masih murah. Namun, memang lokasinya tidak terlalu strategis dibandingkan dengan perumahan yang dibangun oleh para pengembang besar.

“Lokasinya memang di daerah pinggiran dengan segmentasi pasar kelas menengah ke bawah, meski demikian saya masih menetapkan standar lokasi maksimal 30 menit dari pusat bisnis,” katanya.

Saat ini Sari tengah membangun dua rumah baru serta menawarkan satu rumah ready stock seharga Rp 85 juta, juga menerima inden pembangunan rumah tipe 21 dengan harga Rp 75 juta.

Selain menggarap rumah untuk kalangan menengah ke bawah, Sari juga sedang membangun rumah untuk kalangan menengah dengan harga jual sekitar Rp 300 juta hingga Rp 450 juta. “Setiap rumah yang terjual setidaknya saya bisa mendapatkan margin keuntungan sekitar 30%,” katanya.

Untuk terjun dan sukses di dalam bisnis ini, Sari mengingat beberapa poin penting, yakni dengan memperluas jaringan, terutama berpartner dengan orang-orang yang memiliki visi yang sama.

Salah satu caranya adalah dengan bergabung ke dalam berbagai macam komunitas properti, seperti komunitas developer, komunitas broker, serta komunitas agen properti. Komunitas-komunitas tersebut juga bisa dijadikan sebagai lahan promosi untuk setiap produk properti yang akan dipasarkan.

“Persaingan di bisnis ini cukup ketat terutama berhadapan langsung dengan para developer mini lainnya, karena kebutuhan akan rumah terus meningkat tetapi lahan terbatas,” katanya.

Meski demikian, Sari tetap optimistis bisnis yang dijalankannya masih akan tetap bersinar selama manusia membutuhkan rumah untuk berlindung. Selain itu juga tergantung kepiawaian seorang pengembang untuk membidik target market dan Mengetahui Harga Tanah.

Peluang Usaha Jual Beli Tanah Di Boyolali

Jual Beli Tanah Di Boyolali, mungkin sebagian besar dari Kita masih merasa asing dengan nama kota ini, atau mungkin sebagian dari kita justru mengenalnya sangat dekat, jika Anda pernah sesekali singgah atau melewati kota ini mungkin Anda sudah memiliki bayangan saat ini, namun bagaimana yang belum?, di sini kami akan sedikit bercerita tentang potensi yang ada di Boyolali.

Memiliki Bandara Internasional

Jika Anda sering bepergian dari Jakarta ke Solo atau dari kota lainnya dengan pesawat terbang, maka setibanya di kota Solo Anda akan sedikit keheranan, karena Anda tidak berada di Bandara Solo tapi ternyata Bandara Adi Soemarmo Boyolali, yah kota ini memiliki Bandara Internasional yangmelayani penerbangan domestik dan internasional setiap harinya, bahkan Bandara ini difungsikan sebagai embarkasi keberangkatan jamaah haji setiap tahunya dari seluruh calon Jamaah Haji Jawa Tengah dan DIY.

Jalur distribusi utama dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang ke Surakarta (Solo) dan Klaten

Boyolali merupakan jalur penghubung Antara Kota Semarang dan Kota Solo, sebagai jalur utama tentunya tingkat kepadatan lalu lintas cukup tinggi, selain itu seluruh distribusi dari Semarang ke Kota Solo melalui Kota ini.

Calon Kota Industri Utama

Sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah, kabupaten Boyolali selain sebagai Lumbung Padi Propinsi Jawa Tengah, juga dicanangkan sebagai Kota Industri yang menyerap tenaga kerja dari Kabupaten sekitar seperti Semarang, Sukoharjo, Klaten dan Magelang. Oleh karena itu potensi meningkatnya jumlah kepadatan penduduk pasti akan terjadi.

Kondisi Alam Yang Mendukung

Di Boyolali, tersedianya sumber daya alam kebutuhan dan pangan merupakan nilai tambah tersendiri untuk berpotensinya tingkat kepadatan penduduk di kota ini yang secara langsung berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal, dari situ peluang ini dilirik para Pengembang Perumahan yang telah ada.

Tentunya hal-hal tersebut tidak mewakili secara keseluruhan, namun paling tidak dapat kita jadikan acuan gambaran akan potensi yang dapat kita manfaatkan dari kota ini.

Nah bagaimana menurut anda tentang peluang usaha membeli tanah di boyolali?
Tentunya sedikit penelitian akan membuat anda menjadi lebih mendapat untung besar.

Tarif Mengurus Sertifikat Tanah

Tarif Mengurus Sertifikat Tanah – Mengurus sertifikat tanah menjadi hal yang penting terkait dengan kelangsungan hidup dan aset berharga. Jika terpenuhi, maka Anda tidak perlu khawatir lagi untuk tinggal di rumah Anda selamanya. Selain itu, Anda juga dapat mewariskan hak tanah kepada anak cucu. Untuk itu, Anda perlu memahami dan menaati prosedur yang ada untuk mengurus hak milik atas tanah untuk rumah tinggal Anda.

Hal-hal yang berhubungan dengan kepemilikan hak-hak atas tanah seperti Hak Milik dan Hak Guna Bangunan diatur dalam Bagian III dan Bagian V UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA).

Keterangan:

  • NPT = Nilai Perolehan Tanah.
  • NPTTKUP = Nilai Perolehan Tanah Tidak Kena Uang Pemasukkan.
  • NPT & NPTTKUP bisa dilihat di SPT PBB.
  • NPT = NJOP Tanah.
  • NPTTKUP = NJOPTKP.
  • Jangka waktu HGB bisa dilihat di sertifikat tanah.
  • UP HGB = Uang Pemasukan HGB.
  • Jangka waktu 30 tahun : 1% x (NPT-NPTTKUP)
  • Kurang dari 30 tahun : (Jangka Waktu HGB yang diberikan/30) x {1% x (NPT-NPTTKUP)}
  • Rumus:  [Luas tanah x (NJOP-NJOPTKP) ] x 5% + biaya notaris
  • Biaya notaris antara 750rb s/d 2,5juta.

Pajak Penjual dan Pajak Pembeli

Berhati-hatilah dengan penjual rumah yang ingin menjual rumahnya dengan harga bersih. Anda perlu mengetahui terlebih dahulu apakah harga bersih adalah harga di luar notaris dan pajak penjual atau tidak. Apabila penjual minta bersih di luar biaya-biaya lain, bersiap-siaplah untuk merogoh tabungan lebih banyak. Adapun, rincian pajak adalah sbb:

  • Pajak Penjual (PPH) : 5% x harga (tanah rumah) NJOP
  • Pajak Pembeli (BPHTB) : 5% x harga (tanah rumah – 60 Juta)
  • Contoh:
  • Luas tanah 145 m2, harga tanah di NJOP adalah Rp1.300.000,-/m2
  • Harga bangunan di NJOP Rp500.000,-/m2
  • Sehingga pajak penjual = 5% x [145 x ( Rp1.300.000,- + Rp500.000,-) ] = Rp13.050.000,-
  • Pajak pembeli = 5% x [[145 x (Rp1.300.000,- + Rp500.000,-) ] – Rp60.000.000]] = Rp10.050.000.-

Sehingga, apabila harus membayar pajak penjual, Anda harus mengeluarkan dana untuk pajak jual beli sebesar Rp23.100.000,- di luar harga rumah.

Biaya Notaris

Apabila biaya notaris yang akan ditunjuk bersama ditanggung oleh pembeli, bersiap-siaplah untuk menghabiskan waktu dan tenaga yang lebih. Karena selain harus mencari-cari notaris PPAT yang murah dan benar, Anda juga harus berupaya menawar harga ke notarisnya. Akan tetapi bila kita melalui KPR bank, Anda akan mendapat notaris yang sudah memiliki standar biaya dari bank tersebut.

Biaya-biaya yang akan kita keluarkan untuk notaris sebagai berikut:

  • Biaya cek sertifikat : Rp100.000,-
  • Biaya SK 59 : Rp100.000,-
  • Biaya validasi pajak : Rp200.000,-
  • Biaya Akte Jual Beli (AJB) : Rp2.400.000,-
  • Biaya Balik Nama (BBN) : Rp750.000,-
  • SKHMT : Rp250.000,-
  • APHT : Rp1.200.000,-
  • Total : Rp5.000.000,-

Cek sertifikat diperlukan untuk memastikan apakah sertifikat tersebut asli atau palsu. Validasi pajak juga perlu untuk memastikan apakah pajak sudah dibayar, belum, atau bukti pembayaran ternyata palsu. Biaya akta jual beli merupakan biaya pengurusan segala berkas-berkas sampai selesai dan Anda hanya menandatangani bersama si penjual semua berkas-berkas dan perjanjian jual beli. Biaya balik nama adalah biaya pengurusan balik nama semua sertifikat dari penjual ke pembeli.

  • Biaya pemasukan kas negara (2% x (NJOP tanah – 60 Juta)
  • Misalnya harga NJOP tanah: Rp1.300.000,-/m2 dan luas tanah adalah 145m2. maka NJOP tanah: Rp1.300.000,- x 145 = Rp188.500.000.-
  • Jadi biaya pemasukan kas negara untuk peningkatan SHM adalah: 2% x (Rp188.500.000,- – Rp60.000.00,-) = Rp2.570.000,-
  • Jasa notaris: Rp1.000.000,- s.d. Rp2.000.0000.-
  • Jadi total biaya peningkatan hak milik antara Rp3.570.000,- s.d. Rp4.570.000,-

Namun demikian, hal di atas berbeda dengan Sertifikat Hak Milik (SHM). Anda sebagai pemegang hak memiliki kepemilikan penuh atas tanah. Selain itu, Anda juga memiliki hak turun-temurun yang terkuat dari hak-hak atas tanah lainnya yang dikenal dalam UUPA.

Baca juga:

Cara Membuat Sertifikat Tanah Yang Hilang

Cara Membuat Sertifikat Tanah Yang Hilang – Sertifikat tanah merupakan dokumen bukti kepemilikan seseorang atas suatu tanah atau alat bukti bagi pemegang hak yang sah atas tanah tersebut. Tentu saja, oleh karena itu dokumen penting ini harus Anda simpan dengan baik dan cermat, sama seperti layaknya Anda memperlakukan surat berharga Anda yang lain.

Meski sudah Anda simpan dengan baik, bagaimana kalau terjadi sesuatu hal tak terduga sehingga sertifikat tanah asli yang Anda miliki hilang? Mungkin Anda bertanya-tanya apakah hak tanah yang Anda miliki tersebut juga hilang? Jawabannya tentu saja tidak, karena pada dasarnya sertifikat tanah asli yang Anda pegang tersebut hanya merupakan salinan dari buku tanah yang disimpan di Kantor Pertanahan atau Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) di wilayah tempat tanah tersebut berada. Jadi, jika sertifikat tanah itu hilang, maka Anda sebagai pemegang hak atas tanah tersebut bisa mengajukan permohonan kepada Kantor Pertanahan atau Kantor BPN yang mewilayahi tanah tersebut untuk menerbitkan sertifikat pengganti. Namun, tentu saja Anda harus mengurus penggantian sertifikat tanah yang hilang tersebut sesegera mungkin.

1. Melaporkan Kehilangan Sertifikat Tanah ke Kepolisian

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah melaporkan perihal kehilangan sertifikat tanah Anda tersebut ke pihak yang  berwenang, dalam hal ini kepolisian. Di sejumlah wilayah, laporan ke Polsek sudah cukup, namun ada wilayah yang mengharuskan minimal laporan ke Polres. Saat melapor, sebutkan nomor sertifikat, lokasi tanah, dan atas nama siapa tanah tersebut.

Petugas kepolisian akan memeriksa kelengkapan berkas laporan. Biasanya petugas akan meminta surat pengantar dari kelurahan setempat sebagai dasar laporan. Pihak kepolisian juga mungkin mensyaratkan agar kehilangan sertifikat tersebut diumumkan di media cetak nasional. Tapi langkah pemasangan pengumuman ini biasanya dilakukan oleh Kantor BPN, atas biaya pemohon.

Setelah itu akan dikeluarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang nantinya dibawa ke Kantor BPN.

2. Pemblokiran Sertifikat Tanah

Jika terdapat jeda waktu yang cukup lama antara kejadian hilangnya sertifikat tanah dengan keluarnya BAP sebagai dasar pemblokiran sertifikat, misalnya lebih dari 1 bulan, hal ini dapat diatasi dengan langsung mengirimkan surat permohonan pemblokiran sertifikat tanah ke Kantor BPN pada saat sertifikat diketahui hilang dengan menceritakan kronologi kejadian.

Untuk memblokir sertifikat tanah, juga diperlukan dokumen seperti fotokopi sertifikat tanah yang dimaksud serta identitas pemilik sertifikat untuk melengkapi surat blokir yang ditujukan kepada Kepala Kantor Pertanahan.

Setelah surat blokir sudah diterima pihak BPN dan sudah dicatatkan di buku tanah, maka sertifikat tanah Anda pun sudah aman, tidak ada pihak lain yang dapat melakukan proses apa pun terhadap tanah Anda hingga ada permohonan sertifikat pengganti.

3. Mengurus Penggantian Sertifikat Tanah ke Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN)

Setelah membuat Surat Keterangan Kehilangan Sertifikat Tanah di Kantor Polisi, Anda dapat mengajukan permohonan pembuatan sertifikat pengganti di Kantor BPN.

4. Mengisi Formulir Permohonan

Setelah semua langkah di atas selesai dilakukan, prosedur selanjutnya adalah mengajukan permohonan untuk membuat sertifikat pengganti atas sertifikat tanah yang hilang tersebut. Kantor BPN menyediakan formulir permohonan yang harus diisi dan ditandatangani pemohon atau kuasanya di atas materai yang cukup.

5. Pemohon Melengkapi Berkas Permohonan Penggantian Sertifikat

Berkas permohonan penggantian sertifikat ini meliputi:

  • Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli dan fotokopi
  • Kartu Keluarga (KK) asli dan fotokopi
  • Fotokopi Sertifikat Tanah yang dimaksud (jika ada)
  • Fotokopi bukti pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tahun terakhir
  • Surat Kehilangan dan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kehilangan sertifikat tanah dari kepolisian
  • Surat Kuasa apabila dikuasakan kepada pihak lain.

6. Pemeriksaan Keabsahan

Sebelum menerbitkan sertifikat pengganti, Kantor BPN terlebih dahulu akan melakukan pemeriksaan keabsahan dari Anda sebagai pihak yang mengajukan permohonan dengan cara meneliti dokumen-dokumen pendukung yang dilampirkan.

7. Pengambilan Sumpah

Pihak BPN akan mengambil sumpah pemilik sertifikat di hadapan Kepala Kantor Pertanahan dan rohaniwan sesuai agama yang bersangkutan. Kemudian akan dibuatkan berita acara sumpahnya.

8. Pengumuman di Media Cetak

Pihak BPN akan mengumumkan berita acara pengambilan sumpah kehilangan sertifikat tanah tersebut di media cetak, atas biaya pemohon. Maksudnya agar memberi waktu andaikata ada pihak-pihak yang merasa keberatan dengan proses penggantian sertifikat tanah tersebut, atau ada sanggahan/gugatan dari pihak lain.

9. Pengukuran Ulang Tanah

Petugas BPN akan melakukan pengukuran ulang ke lokasi tanah yang dimaksud apabila terjadi perubahan surat ukur lama dengan kondisi fisik tanah dan bangunan sekarang.

10.Penerbitan Sertifikat Pengganti

Apabila dalam jangka waktu satu bulan atau 30 hari sejak pemasangan pengumuman di media cetak tidak ada pihak yang mengajukan keberatan atas pembuatan sertifikat pengganti, atau ada pihak yang mengajukan keberatan namun keberatannya terbukti tidak beralasan atau tidak mendasar, maka Kantor BPN akan menerbitkan sertifikat pengganti.

Waktu yang diperlukan untuk proses pengurusan sertifikat pengganti yang hilang, jika semua lancar, adalah kurang-lebih dua sampai tiga bulan setelah pengajuan permohonan. Agak lama memang, tapi hal ini bisa dimengerti karena memang pengurusan masalah tanah ini tidak bisa sembarangan. Dan banyak proses yang mesti dilalui untuk menyelesaikannya.

Baca juga:

 

Proses Cara Membuat Sertifikat Tanah

Cara Membuat Sertifikat Tanah – Data fisik tanah dalam Surat Ukur yang terlampir dalam sertifikat hanya berupa ukuran luas dan tidak melampirkan ukuran lainnya secara detail. Selain itu, data bangunan juga tidak dicantumkan dalam sertifikat. Keterangan yang tercantum hanya tertera jika di atas tanah tersebut terdapat bangunan.

Sertifikat tanah terdiri dari beberapa jenis, antara lain sertifikat Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB), dan Sertifikat Hak Milik (SHM). Adapun, untuk SHM hanya diperuntukkan untuk warga Negara Indonesia. Sementara HGU dan HGB diperbolehkan dimiliki oleh warga asing, namun dalam jangka waktu tertentu.

Membuat sertifikat tanah sebenarnya adalah perkara mudah, namun memang cukup memakan waktu. Untuk itu, Anda harus bersabar. Jika bisa, dalam mengurus sertifikat tanah dilakukan sendiri oleh pemilik tanah. Hal tersebut seharusnya lebih ekonomis atau menekan biaya pengeluaran. Adapun langkah-langkah yang diperlukan untuk membuat sertifikat tanah, antara lain:

1. Menyiapakan Dokumen

Anda harus menyiapkan dan melampirkan dokumen-dokumen yang menjadi syarat. Tentunya, syarat ini perlu disesuaikan dengan asal hak tanah. Adapun, syarat-syaratnya mencakup:

  • Sertifikat Asli Hak Guna Bangunan (SHGB);
  • Fotokopi Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
  • Identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP)dan Kartu Keluarga (KK);
  • SPPT PBB; dan
  • Surat pernyataan kepemilikan lahan.

Selain itu, mungkin Anda mungkin berkeinginan membuat sertifikat tanah atau girik. Sertifikat ini berasal dari tanah yang berasal dari warisan atau turun-temurun dari kakek nenek yang mungkin belum disahkan dalam sertifikat. Untuk itu, Anda bisa membuatkan sertifikat dengan melampirkan:

  • Akta jual beli tanah;
  • Fotokopi KTP dan KK;
  • Fotokopi girik yang dimiliki;
  • Dokumen dari kelurahan atau desa, seperti Surat Keterangan Tidak Sengketa, Surat Keterangan Riwayat Tanah, dan Surat Keterangan Tanah secara Sporadik.

2. Mengunjungi Kantor BPN

Anda perlu menyesuaikan lokasi BPN sesuai dengan wilayah tanah berada. Di BPN, belilah formulir pendaftaran. Anda akan mendapatkan map dengan warna biru dan kuning. Buatlah janji dengan petugas untuk mengukur tanah.

3. Penerbitan Sertifikat Tanah Hak Milik

Setelah pengukuran tanah, Anda akan mendapatkan data Surat Ukur Tanah. Serahkanlah untuk melengkapi dokumen yang telah ada. Setelah itu, Anda hanya perlu bersabar menunggu dikeluarkannya surat keputusan. Anda akan dibebankan BEA Perolehan Hak Atas Tanah (BPHTB) sembari menunggu sertifikat tanah Anda terbit. Lama waktu penerbitan ini kurang lebih setengah hingga satu tahun lamanya. Kadangkala, Anda perlu memastikan kepada petugas BPN kapan sertifikat tanah Anda jadi dan dapat diambil.

Baca juga:

  • 1
  • 2