Biaya Yang Diperlukan Dalam Proses Jual Beli Rumah

Biaya Yang Diperlukan Dalam Proses Jual Beli Rumah – Transaksi jual beli rumah tidak terlepas dari banyaknya biaya-biaya untuk mengurusnya. Adapun, biaya-biaya tersebut ada yang resmi dibayarkan kepada negara atau pemerintah daerah dan ada juga biaya untuk pejabat yang melaksanakan jual beli tersebut, namun dapat dinegosiasikan. Biaya yang resmi dibayarkan tersebut seperti PPh, BPHTB, PNBP, sedangkan biaya lainnya, seperti biaya untuk PPAT. Berikut adalah beberapa biaya yang diperlukan dalam proses jual beli tanah.

Pengecekan Sertifikat

Pengecekan sertifikat dilakukan sebelum transaksi jual beli rumah dilakukan, tujuannya adalah untuk memastikan bahwa sertifikat tidak ada catatan sita, catatan blokir atau catatan yang lainnya. Pengecekan sertifikat ini dilakukan di kantor pertanahan setempat, dan biaya tergantung dari masing-masing kebijakan kantor tersebut, dan biasanya biaya ini ditanggung oleh pembeli rumah, namun tentu hal ini sesuai dengan kesepakatan antara penjual dan pembeli rumah. Untuk biaya pengecekan sertifikat ini sendiri tergantung kebijakan kantor pertanahan setempat.

Biaya Akta Jual Beli (AJB)

Pembuatan akta jual beli atau yang biasa disingkat (AJB) juga memerlukan dana. Pembuat AJB adalah PPAT (Pejabat Pembuat akta tanah). Besarnya harga AJB (Akta jual beli) di PPAT itu berbeda-beda pada tiap-tiap daerah, Namun harga AJB tersebut tidak boleh lebih dari 1% dari harga transaksi yang tertera dalam Akta.

Biaya AJB ini biasanya ditanggung oleh kedua belah pihak baik penjual maupun pembeli rumah, hal tersebut tentu harus sesuai dengan kesepakatan antara penjual dan pembeli rumah. Kebanyakan PPAT menarik biaya 1% dari nilai transaksi, tetapi harga ini tidaklah kaku sehingga klien bisa menawar harga tersebut sepanjang disetujui oleh PPAT. Biaya akta jual beli ini biasanya dibayarkan secara proporsional antara penjual dan pembeli.

Biaya Balik Nama

Balik nama sertifikat dilakukan di kantor pertanahan setempat. Proses balik nama diajukan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dengan membayar sejumlah biaya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Biasanya, biaya balik nama ini ditanggung oleh pembeli.

Biaya PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak)

PNBP dibayarkan sekaligus pada saat pengajuan Peralihan Hak atau Balik Nama. Besarnya PNBP ini 1 0/00 (satu per seribu/permill) dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah.

PPh (Pajak Penghasilan)

PPh harus sudah dibayar sebelum AJB (akta jual beli) ditandatangani. Adapun biaya PPH dilakukan di bank penerima pembayaran transaksi jual beli rumah tersebut lalu kemudian di validasi di kantor pajak setempat. Pajak penghasilan ini biasanya dibebankan kepada penjual, sekali lagi itu tergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli rumah.

Biaya KPR

Berbeda halnya jika anda membeli rumah dengan cara tunai yang tidak akan menimbulkan biaya seperti jika membayar dengan cara kredit atau KPR. Apabila pendanaan yang Anda lakukan dengan cara KPR, akan timbul biaya tambahan seperti biaya provisi, administrasi, dan lainnya yang besar biayanya berkisar 4 sampai 5% dari total pinjaman (plafond) yang disetujui. Untuk biaya KPR sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab dari pihak pembeli.

Baca juga: Contoh Kasus Menjual Tanah Warisan Yang Belum Balik Nama

Contoh Kasus Menjual Tanah Warisan Yang Belum Balik Nama

Menjual Tanah Warisan Yang Belum Balik Nama – Untuk menjual tanah yang belum di baliknamakan atau di sertifikatkan bisa-bisa saja, asalkan ketika melakukan AJB (Akta Jual Beli) ditanda tangani oleh semua anak yang berhak didalam mendaptkan tanah warisan tersebut. Jika berhalangan hadir untuk menanda tangani pada saat proses AJB, bisa menggunakan surat kuasa.

Tetapi jauh sebelum melakukan Akta Jual Beli, seharusnya melengkapi berbagai dokumen yang diperlukan untuk proses legalitas hukum tanah pada saat jual beli tanah waris tersebut. Adapun surat-surat yang diperlukan sebagai berikut:

Surat kematian, surat ini diperlukan untuk meneruskan didalam pembuatan akta kematian.

Surat keterangan ahli waris, surat ini bisa dikeluarkan oleh pengadilan Agama yang berkaitan dengan siapa-siapa saja yang berhak untuk mendapatkan warisan tersebut. Surat ini penting karena berkaitan dengan siapa saja yang wajib menanda tangani proses AJB dengan surat tanah yang diwariskan oleh orang tua tersebut.

Berikut adalah proses melakukan AJB (akta jual beli) sebagai berikut:

Data Tanah

Untuk data tanah, berikut ini yang melengkapinya.

  • PBB selama 5 tahun terakhir (Asli)
  • Sertifikat tanah (Asli)
  • IMB (Jika Ada)
  • Bukti pembayaran listrik dan telepon (jika ada)
  • Jika masih diberi oleh hak tanggungan misalnya (hipotik), maka harus ada surat roya dari bank yang bersangkutan.

Data Penjual dan Pembeli

Untuk data penjual dan pembeli ada dua macam, yaitu bisa perorangan atau Badan. Berikut ini syarat-syarat yang diperlukan oleh pembeli.

+Perorangan

  • FC KTP suami Istri
  • FC Kartu Keluarga
  • FC Akta Nikah/Surat Nikah

+Badan

  • FC KTP Komisaris atau direksi yang mewakili
  • FC AD/ART Perusahaan

RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) jka hendak menjual bahwa pernyataan untuk menjual sedikit asset yang di punya.

Apabila nama yang tercantum di surat tersebut sudah meninggal, maka surat tersebut diperlukan sebagai berukut.

  • Surat Keterangan Waris
  • Untuk WNI, surat pernyataan yang dikeluarkan oleh kelurahan dan kecamatan
  • Untuk WNA, surat akta yang dibuatkan oleh notaris.

Demikianlah dengan ulasan ini tentang permasalahan jual tanah warisan. Jadi silahkan melakukan akta jual beli yang ditanda tangani oleh seluruh ahli waris yang ada. Jika berhalangan untuk hadir, bisa menggunakan surat kuasa untuk menandatanganinya. Semoga bermanfaat.

Baca juga: Cara Mengurus Balik Nama Sertifikat Tanah Watisan Dengan Mudah Dan Aman

Cara Mengurus Balik Nama Sertifikat Tanah Warisan Dengan Mudah Dan Aman

Cara Mengurus Balik Nama Sertifikat Tanah Warisan – Sebagian orang masih ada yang belum paham tata cara mengurus sertifikat tanah hibah atau warisan. Memang yang sedikit menyulitkan adalah jika nama yang tercantum dalam sertifikat bukan atas nama orang tua atau keluarga melainkan orang lain (penjual).

Sedangkan kelengkapan dokumen otentik lain yang dipegang adalah Akta Jual Beli atau AJB, yang ditandatangani oleh orang tua. Pertanyaannya, bagaimana tahap yang benar dalam mengurus balik nama sertifikat.

Berhubung sertifikat tanah masih atas nama penjual, maka sebaiknya ahli waris perlu mengurus balik nama sertifikat. Tahap awal, pemohon harus membuat Surat Keterangan Waris (SKW) yang menerangkan bahwa yang bersangkutan adalah ahli waris dari orang tua.

Surat Keterangan Waris harus dibuat oleh ahli waris, dan disaksikan oleh dua orang saksi dan dikuatkan oleh Kepala Desa tempat tinggal pewaris. Sedangkan syarat lainnya dan prosedur diatur dalam Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No.1 tahun 2010, dan biaya diatur dalam PP No. 14 tahun 2010.

Berikut adalah surat yang perlu anda siapkan untuk mengurus sertifikat tanah warisan:

  1. Mengisi formulir permohonan dan ditandatangani diatas materai. Formulir pemohonan ini memuat :
  • Identitas diri
  • Luas, letak dan penggunaan tanah yang dimohon
  • Pernyataan tanah tidak sengketa
  • Pernyataan tanah dikuasai secara fisik
  1. Fotocopy identitas pemohon/para ahli waris (KTP, KK) dan kuasa apabila dikuasakan, yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket
  2. Sertifikat asli
  3. Surat Keterangan Waris sesuai peraturan perundang-undangan
  4. Akte Wasiat Notariel
  5. Foto copy SPPT PBB tahun berjalan yang telah dicocokkan dengan aslinya oleh petugas loket
  6. Penyerahan bukti SSB (BPHTB), bukti SSP/PPH untuk perolehan tanah lebih dari 60 Juta Rupiah bukti bayar uang pemasukan (pada saat pendaftaran hak).

Proses pengurusan balik nama sertifikat di BPN seperti yang tercantum di atas, biasanya hanya membutuhkan waktu kurang dari satu hari dan untuk biaya yang harus Anda keluarkan untuk layanan ini tergantung pada nilai tanahnya. Sebagai contoh, jika sertifikat tanah yang hendak dibalik nama berada di kawasan Jagakarsa, maka biaya pengurusannya adalah Rp52.925. Hal ini karena NJOP kawasan tersebut pada tahun ini adalah Rp2.925.000. Sedangkan untuk ongkos layanan balik nama yang NJOP-nya Rp3,5 juta seperti Kecamatan Pakansari, Cibinong, pemohon akan dikenakan uang sebesar Rp53.500.

Baca juga : Daftar Harga Tanah Termahal Di Jakarta Dan Sekitarnya

Cara Balik Nama Sertifikat Tanah Warisan

Cara Balik Nama Sertifikat Tanah Warisan – Sertifikat atas nama pewaris bisa diajukan balik nama ke atas nama seluruh ahli waris ke Kantor Pertanahan dengan melampirkan SKW. Dalam pengajuan balik nama ini tidak ada proses jual beli, peralihan haknya hanya karena warisan atau dalam istilah populer disebut turun waris.

Banyak masyarakat yang merasa malas untuk mengurus masalah legalitas, contohnya seperti mengurus balik nama sertifikat tanah warisan. Sebenarnya, untuk mengurus masalah ini tidaklah sulit. Namun memang, terlebih dahulu harus mengumpulkan beberapa data dan kelengkapannya.

Bagi Anda yang ingi mengetahui bagaimana cara balik nama sertifikat tanah warisan, berikut ini adalah tahapannya :

1. Membuat Surat Keterangan Waris

Langkah awal dalam membaut surat tanah waris bisa anda lakukan dengan cara yang ada dibawah ini.

  • Membuat surat pengantar

Lankah pertama yang dilakukan adalah membuat surat pengantar untuk membuat surat keterangan waris, cara dengan datang ke RT dan RW dengan membawa fotokopi Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Nikah orang tua dan surat kematian.

  • Mengajukan ke kantor kelurahan

Setelah mendapatkan surat pengantar, kemudian Anda melanjutkannya dengan mengajukan permohonan ke kantor kelurahan. Caranya Anda datang ke bagian pelayanan umum kemudian mengisi formulir dan surat pengantar dengan membawa dokumen membuat surat keterangan waris, cara dengan datang ke RT dan RW dengan membawa fotokopi Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Nikah orang tua dan surat kematian.

  • Fatwa waris

Setelah itu anda akan mendapatkan surat hak waris dari kelurahan kemudian anda melanjutkan ke kantor pemrtintahan kota setempat untuk lmendapatkan fatwa waris.

2. Mengurus Ke Badan Pemerintahan Nasional

Setelah mendapatkan Surat Keterangan Waris, Anda bisa langsung melanjutkan proses balik nama, caranya dengan datang ke kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) di wilayah tempat lahan wasiat berada dengan datang ke loket layanan.

3. Persyaratan Balik Nama Sertifikat Warisan

Saat di kantor BPN anda wajip untuk melengkapi beberapa data yang meliputi:

  • Mengisi formulir permohonan balik nama
  • Fotokopi KTP pemohon atau seluruh ahli wari
  • Fotokopi Kartu Keluarga (KK) pemohon atau seluruh alhi waris
  • Surat Keterangan Waris
  • Sertifikat tanah asli
  • SPPT PBB tahun terakhir
  • Bukti BPHTB, untuk perolehan tanah lebih dari 60 Juta Rupiah

4. Biaya  & Waktu Pembuatan Balik Nama Tanah Warisan

Untuk biaya pengurusannya sendiri tergantung dari nilai NJOP tanah yang diwariskan. Contohnya jika nilai tanahnya mencapai Rp 4.000.000 maka biaya menjadi Rp 54.000 dengan lama waktu proses pembuatan balik nama lima hari waktu kerja.

Baca juga;

Panduan Jual Beli Tanah Dengan Aman Dan Cepat

Panduan Jual Beli Tanah – Jual beli tanah adalah suatu penjanjian dimana pihak yang memiliki tanah menawarkan dan membeli tanah sesuai dengan harga tanah dan lokasi tersebut. Dengan melakukan jual beli tanah tersebut belum terjadi perubahan apa pun pada ha katas tanah yang bersdangkutan, biarpun misalnya, pembelian sudah membayar pebuh harganya dan tanahnya pun secara fisik sudah diserahkan kepadanya.

Pada saat pembelian tanah ternyata status tanahnya malah sengketa atau seperti yang diutarakan oleh Sumarni Boer, seorang Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), kasus yang sering terjadi biasanya menyangkut sertifikat bodong dan duplikasi sertifikat asli.

Meski urusan transaksi jual beli mungkin hal yang biasa bagi banyak orang, tapi pada kenyataannya, untuk urusan jual beli tanah memang masih banyak yang belum memahami tata caranya dengan benar. Apabila sudah terjadi kesepakatan antara pembeli dan penjual untuk melakukan jual beli atas sebidang tanah, maka beberapa langkah yang harus ditempuh adalah:

1. Menyiapkan Persyaratan

Penjual:

Sertifikat asli hak atas tanah yang akan dijual.

  • Kartu Tanda Penduduk.
  • Bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan.
  • Surat Persetujuan Suami/Isteri bagi yang sudah berkeluarga (atau akta kematian jika sudah meninggal.
  • Kartu Keluarga.

Pembeli:

  • Kartu Tanda Penduduk.
  • Kartu Keluarga.

2. Mendatangi Kantor Pejabat Pembuat Akta Tanah

Penjual dan pembeli bersama-sama mendatangi Kantor Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) untuk membuat Akta Jual Beli tanah (AJB) sambil membawa persyaratan yang telah disiapkan sebelumnya.

PPAT adalah pejabat umum yang diangkat oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang mempunyai kewenangan membuat AJB.

3. Proses pembuatan AJB

Persiapan Pembuatan Akta Jual Beli.

  • Sebelum membuat AJB, PPAT akan melakukan pemeriksaan mengenai keaslian sertifikat ke kantor BPN. Sesuai Pasal 34 PP No. 24 Tahun 1997, lembaga ini akan mengecek keaslian sertifikat berdasarkan peta pendaftaran, daftar tanah, surat ukur, dan buku tanah.
  • Penjual harus membayar Pajak Penghasilan (PPh) apabila harga jual tanah di atas enam puluh juta rupiah. Pembayaran biasanya di Bank yang telah ditunjuk.
  • Pembeli dapat membuat pernyataan bahwa dengan membeli tanah tersebut ia tidak menjadi pemegang hak atas tanah yang melebihi ketentuan batas luas maksimum.
  • Surat pernyataan dari penjual bahwa tanah yang dimiliki tidak dalam sengketa.
  • PPAT menolak pembuatan AJB apabila tanah yang akan dijual sedang dalam sengketa

Pembuatan AJB

  • Pembuatan akta harus dihadiri oleh penjual dan calon pembeli atau orang yang diberi kuasa dengan surat kuasa tertulis.
  • Pembuatan akta harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua orang saksi.
  • Pejabat pembuat Akta Tanah membacakan akta dan menjelaskan mengenai isi dan maksud pembuatan akta.
  • Bila isi akta telah disetujui oleh penjual dan calon pembeli maka selanjutnya akta ditandatangani oleh penjual, calon pembeli, saksi-saksi dan PPPAT.
  • Akta dibuat dua lembar asli, satu lembar disimpan di Kantor PPAT dan satu lembar lainnya disampaikan ke Kantor BPN untuk keperluan pendaftaran (balik nama).
  • Kepada penjual dan pembeli masing-masing diberikan salinannya.

Setelah pembuatan AJB telah selesai, kemudian menyerahkan berkas ke kantor BPN untuk keperluan balik nama sertifikat. Penyerahan harus dilaksanakan selambat-lambatnya 1 minggu atau 7 hari kerja saat bertandatangan surat tersrebut.

Setelah berkas tersebut disampaikan ke Kantor BPN, maka pihak BPN akan memberikan tanda bukti penerimaan permohonan balik nama kepada PPAT. Dan selanjutnya oleh PPAT tanda bukti penerimaan tersebut diserahkan kepada Pembeli. Selanjutnya nama pemegang hak lama (penjual) di dalam buku tanah dan sertifikat dicoret dengan tinta hitam dan diparaf oleh Kepala BPN atau Pejabat yang ditunjuk.

Nama pemegang hak yang baru (pembeli) ditulis pada halaman dan kolom yang ada pada buku tanah dan sertifikat dengan dibubuhi tanggal pencatatan dan ditandatangani oleh Kepala Kantor BPN atau pejabat yang ditunjuk.

Baca juga; Harga Tanah Dikota Palembang