Peluang Usaha Jual Beli Tanah Di Boyolali

Jual Beli Tanah Di Boyolali, mungkin sebagian besar dari Kita masih merasa asing dengan nama kota ini, atau mungkin sebagian dari kita justru mengenalnya sangat dekat, jika Anda pernah sesekali singgah atau melewati kota ini mungkin Anda sudah memiliki bayangan saat ini, namun bagaimana yang belum?, di sini kami akan sedikit bercerita tentang potensi yang ada di Boyolali.

Memiliki Bandara Internasional

Jika Anda sering bepergian dari Jakarta ke Solo atau dari kota lainnya dengan pesawat terbang, maka setibanya di kota Solo Anda akan sedikit keheranan, karena Anda tidak berada di Bandara Solo tapi ternyata Bandara Adi Soemarmo Boyolali, yah kota ini memiliki Bandara Internasional yangmelayani penerbangan domestik dan internasional setiap harinya, bahkan Bandara ini difungsikan sebagai embarkasi keberangkatan jamaah haji setiap tahunya dari seluruh calon Jamaah Haji Jawa Tengah dan DIY.

Jalur distribusi utama dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang ke Surakarta (Solo) dan Klaten

Boyolali merupakan jalur penghubung Antara Kota Semarang dan Kota Solo, sebagai jalur utama tentunya tingkat kepadatan lalu lintas cukup tinggi, selain itu seluruh distribusi dari Semarang ke Kota Solo melalui Kota ini.

Calon Kota Industri Utama

Sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah, kabupaten Boyolali selain sebagai Lumbung Padi Propinsi Jawa Tengah, juga dicanangkan sebagai Kota Industri yang menyerap tenaga kerja dari Kabupaten sekitar seperti Semarang, Sukoharjo, Klaten dan Magelang. Oleh karena itu potensi meningkatnya jumlah kepadatan penduduk pasti akan terjadi.

Kondisi Alam Yang Mendukung

Di Boyolali, tersedianya sumber daya alam kebutuhan dan pangan merupakan nilai tambah tersendiri untuk berpotensinya tingkat kepadatan penduduk di kota ini yang secara langsung berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal, dari situ peluang ini dilirik para Pengembang Perumahan yang telah ada.

Tentunya hal-hal tersebut tidak mewakili secara keseluruhan, namun paling tidak dapat kita jadikan acuan gambaran akan potensi yang dapat kita manfaatkan dari kota ini.

Nah bagaimana menurut anda tentang peluang usaha membeli tanah di boyolali?
Tentunya sedikit penelitian akan membuat anda menjadi lebih mendapat untung besar.

Tarif Mengurus Sertifikat Tanah

Tarif Mengurus Sertifikat Tanah – Mengurus sertifikat tanah menjadi hal yang penting terkait dengan kelangsungan hidup dan aset berharga. Jika terpenuhi, maka Anda tidak perlu khawatir lagi untuk tinggal di rumah Anda selamanya. Selain itu, Anda juga dapat mewariskan hak tanah kepada anak cucu. Untuk itu, Anda perlu memahami dan menaati prosedur yang ada untuk mengurus hak milik atas tanah untuk rumah tinggal Anda.

Hal-hal yang berhubungan dengan kepemilikan hak-hak atas tanah seperti Hak Milik dan Hak Guna Bangunan diatur dalam Bagian III dan Bagian V UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA).

Keterangan:

  • NPT = Nilai Perolehan Tanah.
  • NPTTKUP = Nilai Perolehan Tanah Tidak Kena Uang Pemasukkan.
  • NPT & NPTTKUP bisa dilihat di SPT PBB.
  • NPT = NJOP Tanah.
  • NPTTKUP = NJOPTKP.
  • Jangka waktu HGB bisa dilihat di sertifikat tanah.
  • UP HGB = Uang Pemasukan HGB.
  • Jangka waktu 30 tahun : 1% x (NPT-NPTTKUP)
  • Kurang dari 30 tahun : (Jangka Waktu HGB yang diberikan/30) x {1% x (NPT-NPTTKUP)}
  • Rumus:  [Luas tanah x (NJOP-NJOPTKP) ] x 5% + biaya notaris
  • Biaya notaris antara 750rb s/d 2,5juta.

Pajak Penjual dan Pajak Pembeli

Berhati-hatilah dengan penjual rumah yang ingin menjual rumahnya dengan harga bersih. Anda perlu mengetahui terlebih dahulu apakah harga bersih adalah harga di luar notaris dan pajak penjual atau tidak. Apabila penjual minta bersih di luar biaya-biaya lain, bersiap-siaplah untuk merogoh tabungan lebih banyak. Adapun, rincian pajak adalah sbb:

  • Pajak Penjual (PPH) : 5% x harga (tanah rumah) NJOP
  • Pajak Pembeli (BPHTB) : 5% x harga (tanah rumah – 60 Juta)
  • Contoh:
  • Luas tanah 145 m2, harga tanah di NJOP adalah Rp1.300.000,-/m2
  • Harga bangunan di NJOP Rp500.000,-/m2
  • Sehingga pajak penjual = 5% x [145 x ( Rp1.300.000,- + Rp500.000,-) ] = Rp13.050.000,-
  • Pajak pembeli = 5% x [[145 x (Rp1.300.000,- + Rp500.000,-) ] – Rp60.000.000]] = Rp10.050.000.-

Sehingga, apabila harus membayar pajak penjual, Anda harus mengeluarkan dana untuk pajak jual beli sebesar Rp23.100.000,- di luar harga rumah.

Biaya Notaris

Apabila biaya notaris yang akan ditunjuk bersama ditanggung oleh pembeli, bersiap-siaplah untuk menghabiskan waktu dan tenaga yang lebih. Karena selain harus mencari-cari notaris PPAT yang murah dan benar, Anda juga harus berupaya menawar harga ke notarisnya. Akan tetapi bila kita melalui KPR bank, Anda akan mendapat notaris yang sudah memiliki standar biaya dari bank tersebut.

Biaya-biaya yang akan kita keluarkan untuk notaris sebagai berikut:

  • Biaya cek sertifikat : Rp100.000,-
  • Biaya SK 59 : Rp100.000,-
  • Biaya validasi pajak : Rp200.000,-
  • Biaya Akte Jual Beli (AJB) : Rp2.400.000,-
  • Biaya Balik Nama (BBN) : Rp750.000,-
  • SKHMT : Rp250.000,-
  • APHT : Rp1.200.000,-
  • Total : Rp5.000.000,-

Cek sertifikat diperlukan untuk memastikan apakah sertifikat tersebut asli atau palsu. Validasi pajak juga perlu untuk memastikan apakah pajak sudah dibayar, belum, atau bukti pembayaran ternyata palsu. Biaya akta jual beli merupakan biaya pengurusan segala berkas-berkas sampai selesai dan Anda hanya menandatangani bersama si penjual semua berkas-berkas dan perjanjian jual beli. Biaya balik nama adalah biaya pengurusan balik nama semua sertifikat dari penjual ke pembeli.

  • Biaya pemasukan kas negara (2% x (NJOP tanah – 60 Juta)
  • Misalnya harga NJOP tanah: Rp1.300.000,-/m2 dan luas tanah adalah 145m2. maka NJOP tanah: Rp1.300.000,- x 145 = Rp188.500.000.-
  • Jadi biaya pemasukan kas negara untuk peningkatan SHM adalah: 2% x (Rp188.500.000,- – Rp60.000.00,-) = Rp2.570.000,-
  • Jasa notaris: Rp1.000.000,- s.d. Rp2.000.0000.-
  • Jadi total biaya peningkatan hak milik antara Rp3.570.000,- s.d. Rp4.570.000,-

Namun demikian, hal di atas berbeda dengan Sertifikat Hak Milik (SHM). Anda sebagai pemegang hak memiliki kepemilikan penuh atas tanah. Selain itu, Anda juga memiliki hak turun-temurun yang terkuat dari hak-hak atas tanah lainnya yang dikenal dalam UUPA.

Baca juga: