Mengetahui Harga Tanaha Membawa Banyak Keuntungan

17 Agustus 2018

Rumah dan tanah merupakan salah satu produk investasi yang tak lekang oleh zaman. Selain minim risiko, produk tren harga properti cenderung terus naik.

Untuk itu, permintaan terhadap produk properti seakan tidak pernah habis. Bahkan kepemilikan rumah untuk tempat bernaung menjadi impian semua orang. Namun, mimpi tersebut tidak mudah diwujudkan, apalagi harga properti saat ini terus naik mengikuti tingkat inflasi.

Kredit pemilikan rumah pun dinilai menjadi salah satu solusi efektif untuk menggapai cita-cita atas rumah, tetapi bunga yang ditetapkan serta uang muka yang cukup besar membuat nyali ciut untuk menjadi debitur.

Melihat hal yang kontradiktif tersebut membuat seorang Siti Sholekah Sariningsih tergerak untuk mengampanyekan dan mengedukasi masyarakat bahwa properti bisa dimiliki tanpa harus melalui KPR.

Perempuan yang akrab disapa Sari itu pun mulai berkecimpung di dunia properti dengan modal minim. Sari bercerita, setelah menikah pada 2012 dia sempat mengontrak selama dua tahun.

Saat itu, dia masih menikmati hidup tanpa terpikir untuk memiliki rumah sendiri. Tetapi, setelah lahir anak pertama pada 2013, baru terasa bahwa dia membutuhkan rumah sendiri yang bisa mendukung perkembangan anak.

“Awalnya terpikir untuk beli rumah secara kredit, tetapi saat itu hanya punya uang tunai sebesar Rp 20 juta. Jumlah tersebut tidak cukup untuk sekadar membayar uang muka, juga kurang untuk memulai sebuah usaha,” pikirnya.

Kemudian, dia pun belajar dari saudara suaminya yang sudah berbisnis properti sejak lama. Atas sarannya, uang sebesar Rp 20 juta tersebut dibelikan tanah seluas 120 meter persegi di daerah Serpong, Tangerang Selatan, yang rencananya akan digunakan untuk membangun empat rumah petak.

“Selama setahun tanah tersebut tidak diapa-apakan, tetapi kalau dilihat dari perkembangan harganya, setahun kemudian harga tanah sudah naik dua kali lipat,” katanya.

Setelah mengumpulkan modal tambahan untuk pembangunan hingga menjual emas kawin, akhirnya Sari bisa membangun satu rumah petak yang akan dikontrakan dengan biaya pembangunan sekitar Rp 30 juta. Ternyata rumah petak yang berdiri di atas lahan 30 meter persegi tersebut terjual sebulan setelah dibangun, dengan harga Rp 55 juta.

Uang sebesar Rp 55 juta tersebut kemudian digunakan lagi untuk membangun dua rumah petak lainnya. Tak berbeda dengan rumah petak pertamanya, dua rumah baru yang dia bangun juga laku dalam waktu yang singkat. Sari bisa mengantongi uang sebesar Rp 125 juta.

Uang tersebut pun dia gunakan lagi untuk membeli tanah seluas 65 m² di kawasan Bintaro. Untuk membangun rumah di tanah tersebut, Sari masih memiliki satu rumah petak yang rencananya akan dijual dan dijadikan modal membangun rumah di Bintaro.

Dari pergulatannya di bisnis jual-beli properti tersebut, akhirnya ibu satu anak ini bisa membeli rumah sendiri tanpa harus mengambil cicilan rumah di bank. Setelah dua tahun terjun di bisnis ini, dia pun mendapatkan banyak ilmu dan masukan terkait bisnis properti, termasuk strategi untuk mendapatkan modal. “Untuk mengawali bisnis properti ini sebenarnya tidak perlu punya lahan, karena bisa disiasati dengan kerja sama,” katanya.

Sebagai contoh, untuk menjalankan proyek terbarunya saat ini, Sari hanya membutuhkan modal sebesar Rp 5 juta, sisanya dia dapatkan pendanaan dari saudaranya yang diajak kerja sama untuk membeli tanah seluas 800 m² di kawasan Legok, Tangerang.

Untuk meyakinkan investornya, Sari menawarkan proposal dan perjanjian kerja sama berupa saham 50% serta pembayaran pinjaman secara bertahaf. Hal serupa juga dilakukan untuk permodalan pembangunan cluster mini delapan rumah yang sedang dia garap.

Sari mengatakan, untuk proses pembangunan sebuah rumah hingga siap dipasarkan paling cepat membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Di mana 3 bulan pertama digunakan untuk mencari tanah yang strategis, 1 bulan untuk mengurus perizinan dan legalitas, serta 2-3 bulan pembangunan rumah untuk tipe 36. “Saat mulai pembangunan sudah bisa dipasarkan dengan menujukan gambar atau desain rumah,” katanya.

Bisa dibilang harga rumah yang ditawarkan Sari jauh di bawah harga rumah di pasaran termasuk rumah bersubsidi, hal tersebut disebabkan oleh pemilihan tanah yang masih murah. Namun, memang lokasinya tidak terlalu strategis dibandingkan dengan perumahan yang dibangun oleh para pengembang besar.

“Lokasinya memang di daerah pinggiran dengan segmentasi pasar kelas menengah ke bawah, meski demikian saya masih menetapkan standar lokasi maksimal 30 menit dari pusat bisnis,” katanya.

Saat ini Sari tengah membangun dua rumah baru serta menawarkan satu rumah ready stock seharga Rp 85 juta, juga menerima inden pembangunan rumah tipe 21 dengan harga Rp 75 juta.

Selain menggarap rumah untuk kalangan menengah ke bawah, Sari juga sedang membangun rumah untuk kalangan menengah dengan harga jual sekitar Rp 300 juta hingga Rp 450 juta. “Setiap rumah yang terjual setidaknya saya bisa mendapatkan margin keuntungan sekitar 30%,” katanya.

Untuk terjun dan sukses di dalam bisnis ini, Sari mengingat beberapa poin penting, yakni dengan memperluas jaringan, terutama berpartner dengan orang-orang yang memiliki visi yang sama.

Salah satu caranya adalah dengan bergabung ke dalam berbagai macam komunitas properti, seperti komunitas developer, komunitas broker, serta komunitas agen properti. Komunitas-komunitas tersebut juga bisa dijadikan sebagai lahan promosi untuk setiap produk properti yang akan dipasarkan.

“Persaingan di bisnis ini cukup ketat terutama berhadapan langsung dengan para developer mini lainnya, karena kebutuhan akan rumah terus meningkat tetapi lahan terbatas,” katanya.

Meski demikian, Sari tetap optimistis bisnis yang dijalankannya masih akan tetap bersinar selama manusia membutuhkan rumah untuk berlindung. Selain itu juga tergantung kepiawaian seorang pengembang untuk membidik target market.

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *