Harga Tanah Dikota Malang Melembung Tinggi

5 Agustus 2018

Harga Tanah Dikota Malang Melembung Tinggi

Harga tanah di kota malang setiap tahun naik dratis atau melembung tinggi.  Banyak orang menyebut Malang sebagai kota impian. Karena selain hawanya sejuk, di kota pegunungan ini juga banyak berdiri lembaga pendidikan yang berkualitas.

Tak ketinggalan, juga banyak objek wisata yang menarik hati masyarakat. Tak heran jika banyak orang luar Kota Malang yang memiliki rumah di Malang. Kondisi tersebut membuat harga tanah di Kota Malang menjadi pilihan investasi yang sangat menjanjikan. Pantas saja jika harga tanah di Kota Malang, cepat sekali naiknya.

Disalah satu kota Malang di kawasan yang sangat strategis yang harga tanahnya selalu naik adalah di kompleks Perumahan Permata Jingga. Tahun 90-an dulu, kawasan itu bisa dibilang kurang diperhitungkan karena lokasinya jauh dari jalan raya. Namun, dengan konsep pembangunan perumahan elite, kini harga tanah di kompleks perumahan tersebut melonjak drastis.

harga tanah di perumahan yang ada di kawasan Jalan Soekarno-Hatta tersebut sudah melonjak naik di angka lebih dari 300 persen. Saat ini harga tanah di Perumahan Permata Jingga mulai kisaran Rp 8 juta–Rp 10 juta per m2. Padahal, empat tahun lalu masih jauh dari harga tersebut.

Selanjutnya harga tanah yang fantastis juga terdapat di Jalan Ijen dan Jalan Kawi. Sebab, kawasan Jalan Ijen adalah ikon Kota Malang dan Jalan Kawi menjadi salah satu pusat bisnis strategis. Di Jalan Ijen, harga tanah untuk 1 m2 bisa hingga Rp 20 juta–Rp 50 juta, bahkan lebih bergantung lokasinya.

Namun, kawasan tersebut tidak diberlakukan perjualan rumah bersadarkan harga tanah per meter persegi, apabila dihitung harga tanah dan bangunannya mulai harga Rp. 25 juta – Rp. 50 Juta per meter persegi.

Pada tahun 2014, harga tanahnya Rp 800 ribu per m2. Sedangkan pada 2015–2016, naik menjadi Rp 1,2 juta per m2. Itu yang ada di SPPT PBB dari pemerintah. Kalau di pasaran, malah bisa lebih tinggi lagi,” bebernya.

Berdasarkan kondisi di lapangan, harga yang ditawarkan tidak sesuai yang tertera di SPPT PBB. ”Seumpama harga di SPPT PBB Rp 1,2 juta per m2, di pasaran bisa dijual Rp 3 jutaan per m2,” jelasnya. Sedangkan untuk harga tanah di sepanjang Jalan Kawi, menurut SPPT PBB-nya yakni Rp 5 juta–Rp 7 juta per m2. Ketika dijual di pasaran, bisa lebih dari itu. Ada yang hingga Rp 25 juta per m2.

Tak hanya di perkotaan saja, harga properti di pinggiran kota juga terus meroket. Hal itu dipicu beberapa pembangunan tempat-tempat umum yang mulai merata di berbagai daerah di Kota Malang. Seperti di daerah Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Kenaikan harganya pun bervariasi. Ade lantas memberi contoh perbedaan NJOP PBB di kawasan Kedungkandang dan di Lowokwaru. ”Kenaikannya bervariatif. Kalau di Bumiayu naik antara Rp 50 ribu–Rp 150 ribu per m2. Yang di kawasan Soekarno-Hatta bisa naik antara Rp 2 juta–Rp 3 juta dari NJOP semula,” bebernya.

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *