Cara Membeli Tanah Dengan Cara Kredit

9 Mei 2018

Cara Membeli Tanah Dengan Cara Kredit- Beli tanah enggak selamanya pakai duit keras. Ada opsi mencicil alias kredit. Cukup manfaatkan aja kredit pemilikan tanah (KPT). Ini adalah fasilitas pembiayaan dari bank dalam pembelian tanah. Syaratnya hampir mirip-mirip sama KPR (kredit pemilikan rumah) maupun KPA (kredit pemilikan apartemen). Hanya beda di obyeknya aja, yakni tanah atau kavling. Ada sejumlah efek samping positif bila gunakan opsi ini. Mau tahu apa saja:

  1. Legalitas dokumen dijamin dan lengkap. Ini karena bank sangat cermat meneliti semua keabsahan dokumen.
  2. Semua dokumen pasti aman karena dipegang bank sampai kredit lunas.
  3. Pemohon kredit biasanya dilindungi asuransi jiwa.

Dari tiga benefit itu, ada satu lagi manfaatnya yakni bisa miliki rumah dengan lebih hemat bila di kemudian hari tanah itu digunakan untuk mendirikan bangunan. Contoh, asumsi saja tanah ukuran 9×14 meter di kawasan Tangerang bisa ditebus Rp 150 juta. Nah bila dibangun rumah berukuran 100 meter dengan biaya per meter Rp 3 juta, maka total biayanya Rp 300 juta. Ditambah dengan pembelian tanah jadi Rp 450 juta.

Padahal rumah dengan ukuran seperti itu harganya pasti di atas Rp 500 jutaan. Secara matematika, jelas lebih murah punya tanah dulu untuk dibangun kemudian daripada beli kapling dan rumah dalam satu waktu.

  • Pastikan tanah bebas sengketa

Selain memastikan dokumen tanah lengkap, langkah paling awal adalah pastikan dulu tanah itu bebas sengketa. Pihak bank enggak mau tahu soal ini. Di samping itu, bank juga tak bisa dimintai pertanggung jawaban bila di kemudian hari tanah jadi sengketa.Hak dan kewajiban bank hanya mencairkan kredit untuk mempermudah nasabah memiliki tanah tersebut.

Meski secara teoritis, tanah yang dibeli lewat KPT kecil kemungkinan tersandung sengketa. Hal ini karena sebelum akad kredit, pihak bank dan notaris akan memeriksa dengan detail kelengkapan dokumen, termasuk pula asal-usul pemilik tanah sebelumnya. Cuma tetap jangan anggap enteng mengingat membeli tanah lewat KPT tidak dianggap jaminan bebas sengketa. Kalau ternyata ada sengketa, maka yang akan digugat adalah pemilik tanah.

  • Persiapan sebelum kredit tanah

Prosedurnya hampir serupa dengan KPR/KTA.  Hanya kali ini obyeknya tanah yang pasti kelengkapan syaratnya berkaitan dengan dokumen tanah. Yang lain sama seperti ada proses tanda tangan akad kredit, cicilan dengan bunga, penalti bila telat bayar, dan lain sebagainya. Berikut adalah persiapan untuk menkredit tanah:

1. buaya yang timbul

Persiapkan uang muka  (down payment), palig aman siapkan uang muka 30 % dari harga tanah yang angkanya berasalkan nilai appraisal bank pemberi kredit. Selain uang muka, siapkan juga biaya lainnya seperti bea provisi kredit, pajak transaksi jual beli tanah, BPHTB, dan biaya notaris. Rata-rata total biaya yang dihabiskan untuk kompenen ini bisa 5 persen dari nilai tanah. Berikutnya pertimbangkan juga biaya yang muncul akibat dari kepemilikan tanah seperti PBB (pajak bumi bangunan) tiap tahun.

2.Utang lain

Pastikan utang baru dari kredit tanah tak membebani pendapatan bulanan. Perlu diingat, sebaiknya utang atau cicilan yang bisa ditanggung tak lebih dari 30 persen dari pendapatan. Lewat dari porsi itu sudah bahaya namanya.

3. Siapkan dana cadangan

Alangkah baiknya mengalokasikan dana cadangan. Maksudnya sebagai langkah preventif jika pihak appraisal bank menilai tanah itu lebih rendah dari ekspektasi. Tak semua bank bersedia mengucurkan kredit tanah tanpa bangunan di atasnya. Di samping itu, ada kemungkinan bank hanya mau memberikan kredit dengan plafon lebih rendah dari harga pasaran tanah itu. Sejatinya KPT bukan satu-satunya solusi memiliki tanah dengan cara kredit. Bisa pula memanfaatkan opsi kredit dengan agunan. Bila punya rumah, tinggal agunkan saja sertifikatnya. Solusi lainnya dengan KTA (kredit tanpa agunan). Konsekuensinya, bunganya lebih tinggi. KTA bisa dipilih hanya untuk menggenapkan kekurangan dana untuk pembelian tanah. Dengan begitu, besaran pinjaman di tekan seminimal mungkin. Pokoknya boleh utang sepanjang tak lebih dari 30 % dari pendapatan bulanan.

Baca juga:

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *